Thursday, 16 December 2010

INFORMASI LOMBA LKS

I.         Pendahuluan
Era globalisasi memberi dampak ganda yaitu disamping membuka kesempatan kerjasama yang seluas-luasnya antar negara, juga membuka persaingan yang semakin ketat dan tajam di segala bidang pekerjaan. Untuk menghadapi tantangan tersebut diatas, maka Pemerintah Indonesia harus memperkuat daya saing dan keunggulan kompetitif di semua sektor dengan mengandalkan pada kualitas dan kemampuan sumber daya manusia dengan penguasaan teknologi dan manajemen. Untuk itu Pemerintah selalu berusaha menyiapkan tenaga kerja yang berkompeten dalam bidangnya masing-masing.
Penyelenggaraan Lomba Keterampilan Siswa (LKS) Tingkat Provinsi  bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) seluruh Jawa Barat adalah sebagai wujud nyata salah satu upaya dalam pengembangan sumber daya manusia yang dilakukan oleh Pemerintah melalui Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

II. Tujuan
1.     Mendorong SMK untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang mengacu kepada Standar Keterampilan Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) kompetensi  keahlian analisis kimia dan kimia industri.
2.     Untuk memantau peta kualitas dan kemampuan SMK di Provinsi Jawa Barat sesuai dengan Standar Keterampilan Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) kompetensi  keahlian analisis kimia dan kimia industri.
3.     Mempromosikan Keterampilan siswa SMK bidang keahlian kimia kepada dunia industri sebagai calon pengguna tenaga kerja.
4.     Memberikan kesempatan dan motivasi kepada siswa untuk berkompetisi secara positif, untuk menumbuhkan kebanggaan pada bidang keahlian yang ditekuninya, juga kebanggan bagi sekolah dan daerah Kabupaten/Kota.

III. Peserta
Peserta adalah siswa SMK dengan kriteria sebagai berikut :
1.     Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2.     Tercatat Siswa tingkat XI/XII/XII  SMK Negeri atau Swasta Kompetensi Keahlian Analisis Kimia  atau Kimia  Industri tahun pelajaran 2010/2011.
3.     Ditunjuk oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sebagai peserta LKS tingkat Provinsi Tahun 2010 mewakili Kabupaten/Kota yang bersangkutan.
4.     Setiap Kabupaten/Kota hanya dapat diwakili oleh 1 (satu) orang peserta.
IV. Materi Lomba
Jenis kegiatan yang dilombakan adalah adalah :
a.     Tes Teori (45 menit)
Meliputi tes pengetahuan secara terpadu tentang :
1. Pengertian dan pemahaman Virgin Coconut Oil (VCO)
2. Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO)
3. Pengujian/analisis mutu Virgin Coconut Oil (VCO)
4. Manfaat Virgin Coconut Oil (VCO)
b. Tes Praktik (600 menit)
Meliputi tes keterampilan terpadu tentang :
1.  Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO)
2.  Pengujian mutu Virgin Coconut Oil (VCO)
3.  Sikap Kerja
c. Tes Presentasi (45 menit)
Meliputi tes kemampuan untuk mempresentasikan (komunikasi dan penalaran) suatu topik yang spesifik dalam Bahasa Inggris yaitu :
1. Teknik Penyajian
2. Penguasaan materi
3. Penggunaan Bahasa Inggris
4. Sikap Penyaji

V. Nilai dan Bobot Penilaian
 Nilai maksimum dan bobot :
1. Tes Teori (nilai  maksimum 100, bobot 20%) …………..N1
2. Tes Praktik (nilai maksimum 100, bobot 60%)……...... N2
3. Tes Presentasi (nilai maksimum 100, bobot 20%) ….. N3
Nilai Akhir (NA)  =  Σ (Nilai Tes N1 + N2 + N3)
   
VI. Aspek Penilaian
a. Aspek yang dinilai untuk tes teori yaitu penguasaan koqnitif terhadap teori-teori tentang :
1. Pengertian dan pemahaman Virgin Coconut Oil (VCO)
2. Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO)
3. Pengujian mutu Virgin Coconut Oil (VCO)
4. Manfaat Virgin Coconut Oil (VCO)
Soal diwujudkan dalam bentuk essay sebanyak 10 soal dengan bobot nilai masing-masing soal 10. 
Nilai akhir maksimum untuk tes teori yaitu 100.
b. Aspek yang dinilai untuk tes praktik adalah:
No
Aspek yang Dinilai
Kriteria
Penilaian
Ya
Tidak
100-90
80,9-80
70,9-70
< 70
I
Pembuatan VCO






1.1.    Penyiapan bahan.
Bahan disiapkan sesuai prosedur





1.2.    Pemilihan peralatan kimia dan pendukung
Peralatan kimia dan peralatan
lain pendukung
disiapkan sesuai prosedur





1.3.    Pembuatan santan
Santan yang dihasilkan kental





1.4.    Pemisahan krim
Krim yang dihasilkan berwarna putih dan kental





1.5.    Pembuatan VCO
VCO dan blondo terpisah





1.6.    Pemurnian VCO
VCO yang dihasilkan berwarna : tak berwarna sampai kuning kecoklatan dan beraroma khas kelapa





II
Uji Mutu






2.1. Warna dan Aroma
VCO yang dihasilkan berwarna : tak berwarna sampai kuning kecoklatan dan beraroma khas kelapa





2.2. Massa Jenis pada 25oC
VCO yang dihasilkan dengan massa jenis : 0,917 – 0,919





2.3. Asam Lemak Bebas
Kadar asam lemak bebas : 0,01 -1,00%




III
Sikap Kerja






3.1. Kejujuran






3.2. Kedisiplinan






3.3. Ketelitian






3.4. Mengolah informasi






Jumlah nilai


Nilai Akhir = Jml Nilai : 13


Nilai akhir maksimum untuk tes praktik yaitu 100.
c. Aspek yang dinilai untuk tes presentasi yaitu pengetahuan, ketrampilan dan sikap meliputi:
No
Aspek Yang Dinilai
Kriteria
Penilaian
Ya
Tidak
100-90
80,9-80
70,9-70
<70

1.

Teknik Penyajian



-    Penggunaan media/alat bantu presentasi
-    Urutan penyampaian materi





2.


Isi Materi


-    Penguasaan materi
-    Kelengkapan data




3.
Penggunaan Bahasa Inggris
-        Kejelasan penyampaian materi




4.



Sikap Penyaji



-    Kerapihan
-    Pemilihan bahasa
-    Ketenangan





Jumlah nilai


Nilai Akhir = Jml Nilai : 4


Nilai akhir maksimum untuk tes presentasi  yaitu 100.

VII. Tim Penguji
Tim Juri terdiri dari Praktisi/Akademisi/Profesional bidang lomba Chemistry yang ditetapkan dengan Surat Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

VIII. Kriteria Pemenang Lomba
Juara Lomba adalah peserta yang memiliki nilai akhir tertinggi dari seluruh nilai para peserta lomba. Apabila ada juara lomba yang memiliki nilai akhir yang sama maka pertama akan diperhitungkan kecepatan menyelesaikan tugas. Seandainya setelah diperhitungkan kecepatannya ternyata nilai masih sama maka akan diadakan tes wawancara oleh setiap juri. Para Juara ditentukan langsung oleh Juri meliputi: Juara I, II dan III

IX.  Tata Tertib Lomba
Pembimbing diharapkan :
1. Mendampingi peserta pada saat technical meeting.
2. Mengisi daftar hadir yang disediakan Panitia.
3. Menjaga ketertiban dan ketenangan dalam pelaksanaan lomba.
4. Membantu peserta yang dibimbingnya apabila terjadi gangguan kesehatan.
5. Tidak membantu peserta pada saat lomba berlangsung.
Peserta diharapkan :
a.   Hanya satu orang yang menjadi peserta mewakili kabupaten/kota dengan Surat Penunjukkan dari Dinas Pendidikan kabupaten/kota. Tidak dibenarkan peserta diganti di saat tengah lomba berlangsung.
b.  Peserta harus hadir pada saat technical meeting.
c.   Peserta harus sudah hadir 15 menit sebelum lomba dimulai.
d.  Wajib mengisi daftar hadir pada saat setiap jenis lomba yang diadakan.
e.   Berpakaian kerja yang rapi, diharapkan hanya memakai identitas nomor peserta dari panitia.
f.    Tidak diperbolehkan membawa buku/catatan/HP di ruang ujian.
g.  Peserta tidak dapat melanjutkan lomba dikarenakan sakit atau hal lain, maka dianggap gugur/menundurkan diri.
h.  Mengerjakan tugas dengan menggunakan pena/ballpoint, tidak dibenarkan menulis dengan pensil.
i.     Tidak diperbolehkan menggunakan tipp-ex untuk menghapus kesalahan. Kesalahan hendaknya dicoret pada kata/angka yang salah dan ditulis kata/angka yang benar.
j.    Perlengkapan yang harus dibawa oleh peserta :
1. Pena/Ballpoint hitam,
2. Penggaris,
3. Penghapus (bukan tipp-ex).
4. Kalkulator
5. Laptop
6. flash disck
k.   Mematuhi tata tertib yang telah ditentukan oleh panitia atau juri, apabila melanggar maka akan dikenakan sanksi.

X. Penutup
Hal-hal yang belum tercantum dalam lembar informasi ini akan diinformasikan pada waktu rapat teknis (technical meeting).

KISI KISI LOMBA LKS CHEMISTRY

BIDANG KEAHLIAN       : KIMIA
JUDUL                            : PEMBUATAN Virgin Coconut Oil (VCO)
PRODUK                        : Virgin Coconut Oil (VCO)

A.       KISI-KISI SOAL PEMBUATAN Virgin Coconut Oil (VCO)

No
Kompetensi/Sub Kompetensi
Aspek Yang dinilai
P/K/S
Kriteria

Pembuatan dan Pengujian Mutu Virgin Coconut Oil (VCO) 



1.    Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) 
1.1.    Penyiapan bahan.
P/K/S
Bahan disiapkan sesuai prosedur
1.2.    Pemilihan peralatan kimia dan pendukung
P/K/S
Peralatan kimia dan peralatan
lain pendukung
disiapkan sesuai prosedur
1.3.    Pembuatan santan
P/K/S
Santan yang dihasilkan kental
1.4.    Pemisahan krim
P/K/S
Krim yang dihasilkan berwarna putih dan kental
1.5.    Pembuatan VCO
P/K/S
VCO dan blondo terpisah
1.6.    Pemurnian VCO
P/K/S
VCO yang dihasilkan berwarna : tak berwarna sampai kuning kecoklatan


2.   Pengujian Mutu Virgin Coconut Oil (VCO) 
2.1.    Warna dan aroma
P/K/S
VCO yang dihasilkan berwarna : tak berwarna sampai kuning kecoklatan dan beraroma khas kelapa
2.2. Massa Jenis pada 25oC
P/K/S
VCO yang dihasilkan dengan massa jenis : 0,917 – 0,919
2.3.    Asam Lemak Bebas
P/K/S
Kadar asam lemak bebas : 0,01 - 1,00%


B.       PANDUAN KEGIATAN LOMBA PEMBUATAN Virgin Coconut Oil (VCO)

I. Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO)
a. Perlakuan sampel
- Disiapkan kelapa parut ± 500 gram
b. Proses produksi Virgin Coconut Oil (VCO)
1. Pembuatan santan
-         Kelapa parut diperas dengan penambahan air dengan ketentuan 500 gram    kelapa ditambah 500 mL air
-         Pemerasan dilakukan dengan menggunakan kain saring yang bersih   (serbet).
2. Pemisahan krim
-         Masukan santan yang telah diperas ke dalam corong pisah, lalu diamkan   selama ± 1 jam
-         Pisahkan lapisan krim dengan membuka kran pada corong pisah.
3. Pemanasan krim menjadi minyak mentah
-         Masukan krim ke dalam beker gelas dan panaskan dengan Bunsen/hot   plate pada suhu 550C – 700C dan gunakan termometer untuk mengeceknya, sambil diaduk
-         Lanjutkan pemanasan hingga diperoleh blondo yang berwarna putih sedangkan VCO jernih pisahkan
4. Pemurnian VCO
VCO selanjutnya disaring dengan kertas saring dan dimasukkan ke dalam gelas kimia lalu dipanaskan dengan menggunakan water bath pada suhu 600C - 750C (waktu ± 30 menit)
II. Pengujian Mutu Virgin Coconut Oil (VCO) 
a. Penentuan warna dan Aroma
VCO yang baik adalah VCO tak berwarna sampai kuning kecoklatan dan beraroma khas kelapa
b. Penentuan massa jenis
-         Timbang piknometer kosong (a)
-         Kemudian isi piknometer dengan VCO lalu timbang (b)
-         Isi kembali piknometer dengan  VCO kemudian timbang (c)
                     Massa air
     V pikno   =  -----------------
                    ρ air
-         Hitung massa jenis ρ  dari VCO dengan menggunakan rumus :
                      Massa VCO
          ρ   =  -----------------
                   Volume VCO
d. Penentuan ALB (Asam Lemak Bebas)
-         Timbang dengan teliti 3 gr sample dalam gelas Erlenmeyer 250 mL, tambahkan 50 mL etanol 95% netral panaskan ± 5 menit
-         Tambahkan 3 tetes indicator phenolphthalein (Pp) dan titrasi dengan larutan NaOH ± 0,1 N
-         Titik akhir titrasi ditandai dengan terbentuknya warna merah sangat muda.
-         Lakukan titrasi sebanyak 2 kali.
Rumus:
                    N x V x 200
Kadar ALB =  -----------------  x 100%
                     W  x 1000
Keterangan :
N = Konsetrasi NaOH
V = Volume NaOH yang terpakai (mL)
200 = Berat molekul (BM) asam laurat
W = Berat VCO (gram)
e. Pembuatan Larutan H2C2O4 2H2O ± 0,1 N
Timbang kristal H2C2O4 2H2O sebanyak ± 0,63 gram. Larutkan dengan 50 ml  akuades di dalam gelas kimia. Pindakan ke dalam labu ukur 100 ml, tambahkan aqua DM sampai tanda batas.
f. Pembuatan Larutan NaOH ± 0,1 N
Timbang kristal NaOH sebanyak ± 0,4 gram. Larutkan dengan 50 ml Aqua DM di dalam gelas kimia lalu encerkan hingga 100 ml.
g. Prosedur Standarisasi Larutan NaOH
-         Pipet 10 ml H2C2O4 2H2O ± 0,1 N yang disediakan, masukan ke dalam gelas Erlenmeyer 250 ml, kemudian tambahkan 3 tetes indikator fenolftalein.

-         Titrasi dengan larutan NaOH.
-         Hitunglah normalitas larutan NaOH.
C.    FLOW SHEET PEMBUATAN Virgin Coconut Oil (VCO)


 

syarat standarisasi

Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan analisis volumetric adalah sebagai berikut :
1. Reaksinya harus berlangsung sangat cepat.
2. Reaksinya harus sederhana serta dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi yang kuantitatif/stokiometrik.
3. Harus ada perubahan yang terlihat pada saat titik ekuivalen tercapai, baik secara kimia maupun secara fisika.
4. Harus ada indicator jika reaksi tidak menunjukkan perubahan kimia atau fisika. Indikator potensiometrik dapat pula digunakan.
Alat-alat yang digunakan pada analisa titrimetri ini adalah sebagai berikut :
1. Alat pengukur volume kuantitatif seperti buret, labu tentukur, dan pipet volume yang telah di kalibrasi.
2. Larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti atau baku primer dan sekunder dengan kemurnian tinggi.


larutan baku primer, yaitu larutan yang konsentrasinya dapat diketahui dengan cara penimbangan zat secara seksama yang digunakan untuk standarisasi suatu larutan karena zatnya relatif stabil. Selain itu, pembakuan juga bisa dilakukan dengan menggunakan larutan baku sekunder, yaitu larutan yang konsentrasinya dapat diketahui dengan cara dibakukan oleh larutan baku primer, karena sifatnya yang labil, mudah terurai, dan higroskopis (Khopkar, 1990).
Syarat-syarat larutan baku primer yaitu :
• Mudah diperoleh dalam bentuk murni
• Mudah dikeringkan
• Stabil
• Memiliki massa molar yang besar
• Reaksi dengan zat yang dibakukan harus stoikiometri sehingga dicapai dasr perhitungan ( Day & Underwood , 2002 )





BAB I
PENDAHULUAN
Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan. Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai penilaian kualitas pakan atau bahan pangan terutama pada standar zat makanan yang seharusnya terkandung di dalamnya.
Pakan merupakan komponen pokok yang mengambil porsi terbesar dari biaya produksi suatu usaha peternakan. Kualitasnya pakan ditentukan oleh kualitas bahan baku yang menyusunnya. Pakan memiliki peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta tenaga bagi ternak dewasa. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan, jenis pakan yang diberikan pada ternak harus bermutu baik dan dalam jumlah cukup.
Ternak membutuhkan zat-zat makanan yang ada dalam pakan seperti protein, karbohidrat, dan lemak. Dengan adanya analisis proksimat, kandungan suatu pakan bisa diketahui. Contohnya pada rerumputan. Kita bisa mengetahui kandungan zat makanan dalam rumput. Setelah kita mengetahuinya, kita bisa membandingkan rumput apa saja yang paling tinggi kandungannya dan paling cocok bagi ternak.
Selain itu, analisis proksimat dapat digunakan untuk mengevaluasi dan menyusun formula ransum dengan baik. Mengevaluasi ransum yang telah ada seperti mencari kekurangan pada ransom tersebut kemudian kita bisa menyusun formula ransum baru dengan menambahkan zat makanan yang diperlukan.



Metode Analisis Percobaan dilakukan dalam beberapa tahap yaitu persiapan contoh, analisis contoh, dan pengolahan data. Pada tahap persiapan contoh, contoh dihaluskan menjadi serbuk halus agar homogen. Analisis contoh mencakup analisis proksimat dan analisis asam lemak. Analisis proksimat meliputi kadar air, kadar abu, lemak, protein, dan serat kasar. Kadar air pada contoh ditetapkan dengan menggunakan oven pada suhu 105o C sampai tercapai bobot tetap. Kadar abu dianalisis dengan cara pengabuan kering dalam tanur, pada pemanasan suhu 500-600o C selama 6 jam. Penetapan kandungan lemak dilakukan dengan metode soklet dan larutan heksan sebagai pelarut. Protein ditetapkan dengan metode mikrokjeldal dan larutan asam klorida sebagai penitar, sedangkan penetapan serat kasar dengan cara hidrolisis contoh dengan larutan asam dan basa encer.

Analisis asam lemak bertujuan untuk mengetahui kandungan asam lemak dalam bahan yang beberapa di antaranya bermanfaat bagi tubuh karena mengandung omega 3, 6, dan 9. Analisis asam lemak dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap persiapan dan analisis. Tahap persiapan meliputi hidrolisis dan esterifikasi menggunakan pereaksi natrium hidroksida dalam metanol dan katalis boron triflorida sehingga dihasilkan ester asam lemak dalam pelarut heksan. Selanjutnya dilakukan analisis dengan menggunakan kromatografi gas yang telah diatur kondisinya.

STERILISASI

STERILISASI
Sterilisasi adalah suatu proses dimana kegiatan ini bertujuan untuk membebaskan alat ataupun bahan dari berbagai macam mikroorganisme. Suatu bahan bisa dikatakan steril apabila bebas dari mikroorganisme hidup yang patogen maupun tidak baik dalam bentuk vegetatip walaupun bentuk nonvegetatip (spora).
Cara – cara sterilisasi adalah sebagai berikut :
  • Secara fisis pemanasan basah
  • Secara mekanis dengan penyaringan
  • Secara fisis pemanasan kering
  • Secara kimia
  • Teknik aseptik
Secara fisis pemanasan basah
· Pemanasan dengan otoklaf
Alat ini terdiri dari suatu tempat yang tahan terhadap tekanan tinggi yang dilengkapi dengan barometer termometer dan kleb.Cara menggunakan otoklaf isilah tempat air dengan air sampai angsang kemudian dimasukan alat atau bahan kedalam otoklaf. Atur kran pengatur tempat keluar air ditutup sehingga tekanan uap didalam otoklaf mencapai 2 atm dan suhu 121º dan biarkan sterilisasi berlangsung 15 – 30 menit. Untuk sediaan obat steril yang volumenya kurang dari 100ml dilakukan sterilisasi 115º – 116º selama 30 menit sedangkan untuk sediaan yang volumenya lebih dari 100 ml dilakukan sterilisasi dilakukan sampai seluruh isi berada dalam suhu 115º – 116º dengan waktu 30 menit. Setelah sterilisasi selesai biarkan otoklaf sampai dingin sampai tekanan menunjukan angka 0 kemudian kran pengatur dibuka dan terakhir tutup bejana dibuka.
· Pemanasan + bakterisida
Cara ini dilakukan dengan cara melarutkan atau mensuspensi bahan obat dalam air proinjeksi dan ditambah Klorkresol 0,2% b/v atau larutan bakterisida yang lain lalu diisikan dalam wadah kedap. Pada sediaan obat steril sterilisasi dilakukan dengan cara. Untuk volume kurang dari 30 ml dipanasi pada suhu 98º sampai 100º selama 30 menit.
· Dengan Penyaringan
Larutan disaring dengan penyaring bakteri steril dan diisikan ke dalam wadah yang steril dan tertutup kedap.
Macam – macam penyaring bakteri adalah :
v Filter gelas G5
v Filter asbes, Filter Seitz
v Filter berkefeld
v Filter Mandler
· Pemanasan kering
Alat yang digunakan berupa oven. Suhu yang digunakan pada sterilisasi adalah 170o – 180o C paling sedikit selama 2 jam.
  • Secara Kimia
Menggunakan Formaldehida dalam bentuk gas
Menggunakan etilen oksida dalam bentuk gas dalam bentuk campuran 10% etilen oksida dengan 90% gas CO2
  • Teknik Aseptik
Merupakan cara penyeterilan dengan teknik yang dapat memperkecil pencemara bakteri pada alat dan bahan.
TITRIMETRI
Analisa titrimetri atau analisa volumetric adalah analisis kuantitatif dengan mereaksikan suatu zat yang dianalisis dengan larutan baku (standar) yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti, dan reaksi antara zat yang dianalisis dan larutan standar tersebut berlangsung secara kuantitatif.
Larutan baku (standar) adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti, dan konsentrasinya biasa dinyatakan dalam satuan N (normalitas) atau M (molaritas).
Indikator adalah zat yang ditambahkan untuk menunjukkan titik akhir titrasi telah di capai. Umumnya indicator yang digunakan adalah indicator dengan warna yang spesifik pada berbagai perubahan pH.
Titik Ekuivalen adalah titik dimana terjadi kesetaraan reaksi secara stokiometri antara zat yang dianalisis dan larutan standar.
Titik akhir titrasi adalah titik dimana terjadi perubahan warna pada indicator yang menunjukkan titik ekuivalen reaksi antara zat yyang dianalisis dan larutan standar.
Suatu zat dapat menjadi baku primer jika memenuhi persyaratan-persyaratan berikut:

1. mudah diperoleh, dimurnikan dan dikeringkan (jika mungkin pada suhu 110-120 C) dan disimpan dalam keadaan murni.

2. tidak bersifat higroskopis dan tidak berubah berat selama penimbangan di udara.

3. zat tersebut dapat diuji kadar pengotornya dengan uji kuantitatif dan kepekaan tertentu.

4. sedapat mungkin mempunyai massa relatif atau massa ekivalen yang besar, sehingga kesalahan karena penimbangan dapat diabaikan.

5. zat tersebut harus mudah larut dalam pelarut yang dipilih.

6. reaksi yang berlangsung dengan pereaksi tersebut harus bersifat stoikiometrik dan langsung. kesalahan titrasi harus dapat diabaikan (tidak berpengaruh), atau dapat ditentukan secara tepat dan mudah.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan analisis volumetric adalah sebagai berikut :
1. Reaksinya harus berlangsung sangat cepat.
2. Reaksinya harus sederhana serta dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi yang kuantitatif/stokiometrik.
3. Harus ada perubahan yang terlihat pada saat titik ekuivalen tercapai, baik secara kimia maupun secara fisika.
4. Harus ada indicator jika reaksi tidak menunjukkan perubahan kimia atau fisika. Indikator potensiometrik dapat pula digunakan.

MIKROBIOLOGI

MIKROBIOLOGI
Mikroorganisme adalah jasad hidup kecil, biasanya mikroskopik, misalnya bakteri, virus, dan cendawan.
Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk, sifat, kehidupan dan penyebaran jasad hidup yang termasuk mikroba (jasad renik, mikrobia, mikroorganisme). Mikroba berasal dari kata: micros = kecil/sangat kecil, bos = hidup/kehidupan. Bidang ilmu ini mencakup salah satu kelompok besar jasad hidup yang mempunyai bentuk dan ukuran sangat kecil, serta sifat hidup yang mempunyai bentuk dan ukuran sangat kecil, serta sifat hidup yang berbeda dengan jasad hidup lain pada umumnya.
Penyakit-penyakit yang dapat ditimbulkan karena adanya mikroba di dalam obat-obatan non steril, dapat mengakibatkan terjadinya infeksi dari bakteri pathogen atau keracunan oleh bakteri penghasil racun.
Bahan makanan terdiri dari protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Bahan makanan merupakan medium pertumbuhan yang baik bagi berbagai macam mikroorganisme. Mikroorganisme dapat membusukkan protein, memfermentasikan karbohidrat dan menjadikan lemak dan minyak berbau tengik. Meskipun banyak mikroorganisme tidak berbahaya bagi manusia, beberapa mikroorganisme pencemar dapat mengakibatkan kerusakan, dan yang lain menimbulkan penyakit atau menghasilkan racun yang menyebabkan peracunan makanan.
Oleh karena itu untuk mengetahui bahwa bahan baku dan bahan tambahan tidak mengalami perubahan sifat serta bebas dari kontaminasi mikroba, maka diperlukan uji mikrobiologis, yang meliputi pengujian Angka Lempeng Total bakteri dan uji cemaran bakteri/ kapang.
Pengukuran kuantitatif populasi mikroba sering kali amat diperlukan di dalam berbagai macam penelaahan mikrobiologis. Pada hakikatnya terdapat 2 macam pengukuran dasar, yaitu penentuan jumlah sel dan penentuan massa sel. Pengukuran jumlah sel biasanya dilakukan bagi organisme bersel tunggal (misalnya bakteri), sedangkan penentuan massa sel dapat dilakukan tidak hanya bagi mikroorganisme bersel tunggal tetapi juga bagi organisme berfilamen (misalnya kapang).
Metode yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam bahan pangan terdiri dari metode hitungan cawan, “Most Propable Number” (MPN), dan metode hitungan mikroskopik langsung. Dari metode-metode tersebut, metode hitungan cawan paling banyak digunakan. Metode lainnya yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam suatu larutan adalah metode turbidimetri (kekeruhan) menggunakan spektrofotometer. Tetapi metode ini sukar diterapkan pada bahan pangan karena medium diukur harus bening, sedangkan ekstrak bahan pangan, misalnya sari buah, biasanya mengandung komponen-komponen yang menyebabkan kekeruhan, sehingga kekeruhan larutan tidak sebanding dengan jumlah mikroba yang terdapat di dalamnya.
Perhitungan massa sel secara langsung atau tidak langsung, banyak dilakukan untuk mengukur pertumbuhan selama proses fermentasi. Dalam perhitungan massa sel secara langsung, jumlah sel mikroorganisme dapat dihitung jika medium pertumbuhannya tidak mengganggu pengukuran. Oleh karena jika substrat tempat tumbuh banyak mengandung padatan, maka sel-sel mikroorganisme tidak dapat diukur dengan metode volumetrik, gravimetrik maupun turbidimetrik. Perhitungan massa sel secara tidak langsung sering digunakan dalam mengamati pertumbuhan sel selama proses fermentasi, dimana komposisi substratnya atau bahan yang difermentasi dapat diamati dan diukur dengan teliti .
Dalam perhitungan mikroorganisme seringkali diperlukan pengenceran. Di laboratorium pengenceran dilakukan dengan botol pengencer seperti lazimnya dilakukan pada standar plate count, namun dapat pula menggunakan tabung. Pada pengenceran dengan botol, cairan dikocok dengan baik sehingga kelompok sel dapat terpisah .

Zat Aditif Makanan

Zat Aditif Makanan
Pada dasarnya baik masyarakat desa maupun kota, pasti telah menggunakan zat aditif makanan dalam kehidupannya sehari-hari. Secara ilmiah, zat aditif makanan di definisikan sebagai bahan yang ditambahkan dan dicampurkan sewaktu pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu. Disini zat aditif makanan sudah termasuk : pewarna, penyedap, pengawet, pemantap, antioksidan, pengemulsi, pengumpal, pemucat, pengental, dan anti gumpal.
Istilah zat aditif sendiri mulai familiar di tengah masyarakat Indonesia setelah merebak kasus penggunaan formalin pada beberapa produk olahan pangan, tahu, ikan dan daging yang terjadi pada beberapa bulan belakangan. Formalin sendiri digunakan sebagai zat pengawet agar produk olahan tersebut tidak lekas busuk/terjauh dari mikroorganisme. Penyalahgunaan formalin ini membuka kacamata masyarakat untuk bersifat proaktif dalam memilah-milah mana zat aditif yang dapat dikonsumsi dan mana yang berbahaya.
Secara umum, zat aditif makanan dapat dibagi menjadi dua yaitu : (a) aditif sengaja, yaitu aditif yang diberikan dengan sengaja dengan maksud dan tujuan tertentu, seperti untuk meningkatkan nilai gizi, cita rasa, mengendalikan keasaman dan kebasaan, memantapkan bentuk dan rupa, dan lain sebagainya. Dan kedua, (b) aditif tidak sengaja, yaitu aditif yang terdapat dalam makanan dalam jumlah sangat kecil sebagai akibat dari proses pengolahan.
Bila dilihat dari sumbernya, zat aditif dapat berasal dari sumber alamiah seperti lesitin, asam sitrat, dan lain-lain, dapat juga disintesis dari bahan kimia yang mempunyai sifat serupa dengan bahan alamiah yang sejenis, baik susunan kimia, maupun sifat metabolismenya seperti karoten, asam askorbat, dan lain-lain. Pada umumnya bahan sintetis mempunyai kelebihan, yaitu lebih pekat, lebih stabil, dan lebih murah. Walaupun demikian ada kelemahannya yaitu sering terjadi ketidaksempurnaan proses sehingga mengandung zat-zat berbahaya bagi kesehatan, dan kadang-kadang bersifat karsinogen yang dapat merangsang terjadinya kanker pada hewan dan manusia.
Beberapa Contoh Zat Aditif
Zat aditif makanan telah dimanfaatkan dalam berbagai proses pengolahan makanan, berikut adalah beberapa contoh zat aditif :
 Zat aditif
Contoh
Keterangan
Pewarna
Daun pandan (hijau), kunyit (kuning), buah coklat (coklat), wortel (orange)
Pewarna alami
Sunsetyellow FCF (orange), Carmoisine (Merah), Brilliant Blue FCF (biru), Tartrazine (kuning), dll
Pewarna sintesis
Pengawet
Natrium benzoat, Natrium Nitrat, Asam Sitrat, Asam Sorbat, Formalin
Terlalu banyak mengkonsumsi zat pengawet akan mengurangi daya tahan tubuh terhadap penyakit
Penyedap
Pala, merica, cabai, laos, kunyit, ketumbar
Penyedap alami
Mono-natrium glutamat/vetsin (ajinomoto/sasa), asam cuka, benzaldehida, amil asetat, dll
Penyedap sintesis
Antioksidan
Butil hidroksi anisol (BHA), butil hidroksi toluena (BHT), tokoferol
Mencegah Ketengikan
Pemutih
Hidrogen peroksida, oksida klor, benzoil peroksida, natrium hipoklorit
-
Pemanis bukan gula
Sakarin, Dulsin, Siklamat
Baik dikonsumsi penderita diabetes, Khusus siklamat bersifat karsinogen
Pengatur keasaman
Aluminium amonium/kalium/natrium sulfat, asam laktat
Menjadi lebih asam, lebih basa, atau menetralkan makanan
Anti Gumpal
Aluminium silikat, kalsium silikat, magnesium karbonat, magnesium oksida
Ditambahkan ke dalam pangan dalam bentuk bubuk
Penutup
Sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwasanya telah dilakukan survei tentang tingkat pengetahuan masyarakat desa di Lampung Timur mengenai zat aditif. Dari hasil observasi yang penulis lakukan (diluar kesimpulan riset secara umum), diketahui bahwa tingkat pengetahuan masyarakat mengenai zat aditif sangat rendah sekali, walaupun terdapat kesadaran yang mumpuni dari masyarakat untuk menggunakan dosis zat aditif secukupnya. Tetapi kabar gembiranya adalah terdapat kecenderungan dari masyarakat desa (walaupun didominasi dengan latar pendidikan terakhir Sekolah Dasar (SD)) untuk tidak masa bodoh terhadap informasi-informasi mengenai zat aditif. Kabar ini merupakan peluang bagi para kimiawan untuk melakukan penyuluhan lebih intensif mengenai zat aditif kepada masyarakat di daerahnya masing-masing.
Bentuk-bentuk penyuluhan yang tepat guna dalam penyebarluasan informasi zat aditif ini dapatlah disesuaikan dengan sosio-kultural masyarakat setempat dan kemampuan dari team penyuluh. Sosio-kultural yang dimaksud disini adalah dengan mempertimbangkan latar pendidikan masyarakat, kehidupan sosial masyarakatnya, dan latar belakang dari pekerjaan penduduk. Diharapkan masyarakat akan dapat lebih cerdas dalam penggunaan dosis atau takaran dari penggunaan zat aditif dan dapat mengetahui zat-zat aditif mana saja yang dapat dikonsumsi dan zat mana saja yang berbahaya bagi manusia.